Behavioral Finance Pada IHSG di Bursa Efek Indonesia Selama Krisis Eropa

  1. Pendahuluan

Motif  seorang investor menanamkan modalnya pada saham adalah agar mendapatkan keuntungan berupa deviden yang terus meningkat setiap periode. Tidak ada investor yang mau mendapatkan kerugian atas saham yang dibeli. Oleh karena itu seorang investor pasti akan mempertimbangkan keputusan investasinya dengan cermat, lebih-lebih saat krisi terjadi. Pertimbangan ini berdasarkan informasi yang didapat dari pasar saham dan perkembangan ekonomi dan politik yang edang terjadi. Semua aktivitas permintaan, penawaran, pembelian dan penjualan saham akan berpengaruh terhadap harga-harga saham yang ada di pasar modal.

Indonesia sebagai negara berkembang memiliki hubungan ekonomi terhadap negara-negara yang berada di Eropa. Hubungan ekonomi Indonesia dengan negara-negara di Eropa berupa ekspor maupun impor barang, sehingga jika terjadi krisis di Eropa pasti akan berdampak terhadap kondisi ekonomi di Indonesia dan juga terhadap harga saham di Indonesia. Secara umum jika terjadi perubahan harga saham yang ada di bursa efek, maka akan terjadi perubahan pula pada Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).

Akhir-akhir ini krisis yang terjadi di Eropa menjadi topik terhangat diberitakan di media massa maupun elektronik. Krisis utang Eropa ini berasal dari Yunani kemudian dilanjutkan dengan krisis yang terjadi di Irlandia dan Portugal. Penyebab krisis ketiga negara tersebut adalah karena utang yang lebih besar dari GDP (Gross Domestic Product), dan sempat mengalami defisit (pengeluaran negara lebih besar dari GDP). Krisis mulai terasa pada akhir tahun 2009, Pada tanggal 2 Mei 2010, IMF (International Menetary Fund) akhirnya menyetujui paket bail out (pinjaman) sebesar €110 milyar untuk Yunani, €85 milyar untuk Irlandia, dan €78 milyar untuk Portugal. Efek dari krisis Eropa ini cukup berdampak kepada IHSG, yang ketika itu anjlok besar-besaran dari posisi 2,971 ke posisi 2,514.

2. Pembahasan

2.1  Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG)

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) merupakan indikator utama yang menggambarkan pergerakan harga saham di pasar modal (http://coki002.wordpress.com/ihsg-sebagai-indikator-bursa-di-indonesia/). IHSG dapat digunakan untuk membandingkan peristiwa dan sebagai alat analisis saham secara keseluruhan. Para investor menggunakan IHSG sengai patokan dalam berivestasi. Dengan IHSG, investor dapat menentukan apakah ini merupakan saat yang tepat untuk berinvestasi atau untuk menarik modal. Kenaikan indeks harga saham yang berlangsung terus-menerus menandakan pasar sedang bullish (naik) atau indeks harga sahaman turun merupakan indikator bahwa pasar sedang bearish (turun).

2.2  Behavioral Finance

Behavioral finance attempts to explain and increase understanding of the reasoning patterns of investors, including the emotional processes involved and the degree to which they influence the decision-making process” Ricciardi dan Simon (2000: 2).  Dari definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa Behavioral Finance menjelaskan dan meningkatkan pemahaman mengenai alasan seorang investor yang berkaitan dengan aspek emosional yang mempengaruhi dalam hal pengambilan keputusan.

“Behavioral finance is the study of how humans interpret and act on information to make informed investment decisions. Its findings suggest that investors do not always behave in a rational, predictable and an unbiased manner indicated by the quantitative models. In fact, investors make mistakes”, Ricciardi (2005:10). Dari kutipan tersebut dapat disimpulkan bahwa Behavioral Finance juga mempelajari interpretasi dan tindakan seorang investor pada sebuah informasi untuk keputusan investasi. Informasi yang didapat dari luar bermacam-macam, misalnya kondisi keuangan, politik, perekonomian dll. Informasi tersebutlah yang akan menjadi sebuah pertimbangan investor untuk melakukan keputusan investasi.

Saat ini secara fundamental diperkirakan BEI tidak akan banyak terkena dampak krisis utang Eropa, karena besarnya kapasitas ekonomi domestik Indonesia dan rendahnya rasio utang terhadap produk domestik bruto (PDB). Namun besarnya ketergantungan bursa kita terhadap investor asing memaksa kita harus selalu waspada. Besarnya akses investor asing ke pasar global membuat mereka sangat sensitif terhadap isu global dan cenderung mengikuti pola pergerakan bursa global maupun regional. Hal inilah yang diduga menjadi rantai penghubung pergerakan indeks global, indeks regional, dan IHSG. Adanya berita baik tentang proses penanganan utang oleh Uni Eropa di awal Nov. 2011 yang diikuti oleh membaiknya bursa global dan regional telah memotivasi investor asing meningkatkan pembelian saham-saham di BEI. Faktanya, aksi beli asing tersebut mendongkrak IHSG sebesar 4.69% dari 3.685 pada 1 November ke angka 3.858 pada 9 November.

Namun, di minggu ketiga bulan November, terdapat berita negatif mengenai krisis Eropa yang masih berkepanjangan. Ditambah lagi dengan meningkatnya imbal hasil obligasi Perancis, Italia, dan Spanyol semakin menekan IHSG, karena dominasi para investor asing yang menjual sahamnya. Pada 22 November 2011, banyak investor yang menjual sahamnya, namun IHSG masing mengalami kenaikan karena banyak investor lokal yang membeli saham, IHSG 55,71 poin (1,51%) ke level 3.735,53.

Saham yang mendominasi dibeli adalah saham-saham berkapitalisasi pasar besar seperti TLKM (PT Telekomunikasi Indonesia Tbk), ITMG (PT Indo Tambangraya Megah Tbk), PGAS (PT Perusahaan Gas Negara Tbk), dan UNTR (PT United Tractors Tbk). Hal ini disebabkan karena investor cenderung menghindari risiko, sehingga investor berinvestasi di saham-saham berkapitalisasi pasar besar (big cap) ini. Behavioral finance pada kasus ini adalah investor berasumsi bahwa risiko kebangkrutan maupun fluktuasi harga di saham-saham perusahaan big cap relatif rendah, karena memerlukan dana yang besar untuk bermain di saham tersebut maka harga saham tersebut tidak mudah untuk dipengaruhi. Oleh karena itu investor yang bermodal besar berani untuk menginvestasikan dananya.

Kemudian berita mengenai kenaikan IHSG di BEI yang dimuat dalam Metrotvnews.com, “Jakarta: Indeks Harga Saham Gabungan Bursa Efek Indonesia (IHSG BEI), Selasa (20/12), dibuka naik 12,38 poin. IHSG BEI naik 12,38 poin atau 0,33 persen ke posisi 3.782,66. Indeks 45 saham unggulan (LQ45) naik 3,12 poin atau 0,47 persen ke posisi 668,15 poin”, penyebab kenaikan ini karena adanya pemicaraan menteri-menteri keuangan di  Eropa yang menarik Dana Moneter Internasional (IMF) untuk menangani krisis utang di Eropa. Berita tersebut disambut positif oleh para investor yang kemudian melakukan aktivitas pembelian saham, sehingga frekuensi pembelian dan volume perdagangan saham meningkat. Espektasi investor terhadap isu tersebut, dari segi ekonomi dengan adanya bantuan dana dari IMF diharapkan dapat membantu menstabilkan krisis di Eropa.

“Lambatnya perkembangan IHSG pada 27 Desember 2011 dikarenakan oleh naiknya Bursa utama Eropa dan naiknya harga minyak mentah mencapai USD1000 per barel” (menurut analisis MNC Securities dalam http://www.ekonomi.okezone.com). Naiknya harga minyak mentah dapat mempengaruhi investor karena, dampak dari naiknya harga minya ini dapat mengakibatkan turunnya nilai tukar rupiah terhadap dolar, dan juga akan berpengaruh pada tingkat bunga, selain itu dapat berakibat pada meningkatnya biaya operasional perusahaan sehingga bisa megurangi laba perusahaan. Hal inilah yang mengakibatkan investor masih ragu-ragu dalam untuk investasi.

Faktor kenaikan harga minyak dunia tidak selamanya mengakibatkan harga saham turun, seperti pada tahun 2009 harga minyak dunia mengalami kenaikan namun harga saham di pasar malah meningkat, karena Investor pasar modal menganggap bahwa naiknya harga-harga energi merupakan pertanda meningkatnya permintaan global, yang berarti membaiknya pemulihan ekonomi global pasca krisis. Sebaliknya, harga energi yang turun mencerminkan melemahnya pemulihan ekonomi global. Dengan begitu, jika harga minyak mentah meningkat, ekspektasi terhadap membaiknya kinerja perusahaan-perusahaan juga akan meningkat dan otomatis harga sahamnya akan ikut naik.

Dalam kausus diatas ada indikasi bahwa keyakinan investor individu cenderung berlebihan dalam menanggapi informasi yang terkini dan mengabaikan informasi dimasa lalu sehingga bila ada informasi berita negatif/ positif maka investor akan menjual/membeli saham tersebut. Oleh karena itu dari beberapa contoh kasus diatas terdapat perbedaan dalam Behavioral finance, meskipun dalam situasi ekonomi yang sama karena investor memiliki asumsi yang berbeda-beda dalam menanggapi perubahan kondisi ekonomi.

3. Kesimpulan

Kondisi ekonomi, politik dalam suatu Negara bahkan Negara lain sangat berpengaruh terhadap naik turunnya harga saham disebuah pasar modal. Behaioral investor ini dipengaruhi oleh hal-hal tersebut, namu setiap investor memiliki asumsi dan ekspektasi yang berbeda, selain itu dipengaruhi oleh kemampuan dana investor. Jika investor memiliki dana yang besar maka akan dapat membeli saham yang berkapitalisasi modal sehingga IHSG bisa naik. Namun berbeda dengan kondisi dimana terjadi krisis dinegara yang memiliki hubungan ekonomi, maka investor akan mulai mempertimbangkan untuk menarik modalnya, Investor memiliki asumsi yang berbeda-beda dalam menanggapi perubahan kondisi ekonomi, namun tujuan investor tetaplah mengharapkan keuntungan yang besar.

Daftar Pustaka

Brigham, Eugene F., Houston, Joel F, 2010, Dasar-dasar Manajemen Keuangan”. Jakarta : Salemba Empat

Widyastuti, Arie. Behavioural Finance dalam Proses Pengambilan Keputusan.

http://www.Metrotvnews.com

http://www.Economy.okezone.com

http://id.answers.yahoo.com/question/index?qid=20080918071556AAL3GOO

http://economy.okezone.com/read/2011/12/22/278/545813/asia-merah-ihsg-masih-menguat-3-poin

http://coki002.wordpress.com/ihsg-sebagai-indikator-bursa-di-indonesia/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s