apakah Cinta ? part 1

Bismillah..
certa ini saya dpat dari grup Aku Bangga Menjadi Seorang Muslim di facebook
hanya sekedar berbagi, semoga kita bisa mengambil hikmah nya, termasuk saya sendiri aamin.
Apapun makna yang kalian baca dari cerita ini mohon jangan salah sangka terhadap saya.
Saya hanya sekedar berbagi saja, bukan bermaksud untuk menceramahi dll, hehehehe😀
Selamat membaca ..
“Siti Syazwani. Happy Birthday! Semoga kamu akan senantiasa dirahmati Nya… All the best in everything you do…Jaga diri & iman baik-baik yea….. Amin, UK-”
Aku meraih ponselku dan membaca SMS ucapan selamat ultah yang kuterima minggu lalu. Cukup ringkas. Namun, aku masih bertanya-tanya mengapa Amin hanya mengirimkan SMS saja kali ini? padahal, tahun-tahun sebelumnya pasti sudah ada kado besar dan bermusik akan tiba beberapa hari sebelum hari ultahku. Ia pun juga sekarang memakai nomor orang lain, dan namaku pun ditulisnya dengan lengkap, padahal tak pernah dia menulisnya seperti ini…
Hati mulai ragu-ragu. Menyangka sesuatu yang tak baik sedang terjadi. Adakah dia sudah …..? Argh, tak mungkinlah! Dia sudah mengatakan tak akan…..
Aku teringat ketika dia pulang cuti pada musim panas tahun lalu. Namun, sebelum itu aku sudah merasakan banyak perubahan yang terjadi pada dirinya. Dia sering memberi nasihat-nasihat, baik ketika kami berkomunikasi melalui telepon, SMS, email, YM dan juga friendster. Dan ketika itu, aku mendapat cuti seminggu dan telah berencana untuk berlibur ke Kuala Lumpur bersama kakak mengunjungi sanak-saudara, dan sekalian juga bisa berjumpa dengan si Amin. Setahun sekali tak salah rasanya. Melepas rindu, sedikit. Boring juga kalau hanya terhubung melalui telepon saja. Lagipula Kuantan-KL sekarang bisa ditempuh dalam 3 jam 1/2 saja. Pulang-balik setiap hari pun boleh.
Di KL, aku telah menghubunginya dan coba mengajak untuk berjumpa. Dia menolak ajakanku untuk keluar berjalan-jalan. Dia hanya bisa menemuiku sebentar saja pada sore hari. Walaupun dia beralasan sibuk, tapi aku tahu dia tidaklah sesibuk itu. Mau tak mau, aku terpaksa menerima saja. Asal bisa berjumpa, itu sudah cukup bagiku. Dan sore itu kami tidaklah ke mana-mana, berputar-putar saja dengan kereta Wira kesukaannya itu.
Selepas sholat Ashar di Masjid sekitar, Amin membawa aku ke sebuah restoran dan kami makan ‘early dinner’ di situ.Kemudian, saat yang paling mengingatkan bagiku adalah sewaktu kami dalam perjalanan pulang ke rumah saudaraku… Dia sempat bertanya
“Apa bedanya kita dengan orang-orang itu ya?” Amin menunjuk-nunjuk ke arah beberapa pasang kekasih yang sedang asyik berdua-duaan di tempat-tempat duduk di sebuah taman. Aku terdiam sesaat.
Huuhf…coba menjawab, tapi dengan jawaban simpel.
“Ala, kita ini masih mendingan sedikit. Tak ada pegang-pegangan, tutup aurat, ketika masuk waktu sholat, kita sholat. Emmh…dengan kata lain islami sedikitlah!.”
“Hmm..” Amin hanya mengangguk-angguk.
“Dalam Islam apakah ada hubungan semacam ini?” Amin bertanya lagi.
Egh…Semakin terkesima aku dibuatnya. Kali ini aku terus diam terpaku. Aku tahu dia lebih banyak tahu seluk-beluk masalah seperti ini. Kalau aku jawab, pasti dia membalas lagi. Huh…lebih baik diam saja!
“Emm, lupakan saja lah. Saya hanya sekedar bertanya…” Amin coba menyenangkan hati.
Tidak lama setelah Amin pulang kembali ke UK untuk menyambung kuliahnya, dia mengirimkan sebuah email padaku untuk menerangkan alasan dan tujuan dia bertanya akan hal itu. Aku sudah mulai faham sedikit-banyak yang aku perlu menjaga hubungan yang masih tidak ‘resmi’ ini.
Dan sejak saat itu dia tidak pernah langsung menelepon aku. SMS pun hanya menanyakan tentang pelajaran saja. Itu pun boleh dihitung dengan jari. Namun, aku bersyukur dan gembira karena dialah yang membuat aku berubah untuk jadi lebih baik dan lebih faham tentang Islam. Jika dulu pakaianku agak ketat dan pendek, kini sudah banyak yang panjang dan longgar aku beli. Jilbabku pun pernah ditegurnya agar dipanjangkan ke bawah dada. Dialah yang memperkenalkan padaku apa itu usrah dan dakwah. Dia juga pernah berpesan – ‘Menjaga hubungan dengan Allah itu sangat penting. Insya Allah, Dia akan menjaga hubungan kita.’
Lalu, apakah yang akan terjadi setelah ini? Hatiku masih tak tenteram memikirkan SMS ucapan hari lahir itu. Bermacam-macam fikiran buruk berkecamuk dalam hati yang mula busuk ini. Aku masih setia menanti kepulangannya. Dan aku yakin dia juga setia padaku. Aku tak pernah memikirkan laki-laki lain selain dia. Dan aku yakin dia juga tak pernah ingin mendua dengan perempuan-perempuan lain.
Dia tidaklah seperti kebanyakan lelaki yang playboy. Ops! Mungkin agak kasar untuk berkata sedemikian. ‘Tuuut. Tuuut…’ Nada dering SMS berbunyi. Nomor Amin yang terpampang.
“Esok ada waktu luang tidak? Bisa kita chatting?”
“Boleh… Saya banyak waktu luang.” jawabku ringkas.
hm, mungkin dia mau buat surprise. Tak mungkinlah dia hanya mengirim SMS saja untuk ‘wish birthday’ aku.. Keyakinan aku mulai bertambah. Dia masih sayang padaku.
“Ok. Tq…” balasnya pula.
bersambung..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s