apakah Cinta ? Part 2

Keesokannya, aku menanti awal dia online. ‘Tuk. Tuk. Tuk..’ Amin has signed in. Oh, tepat sungguh waktunya…
Amin: assalamu ’alaikum wbt.
Wani: wa ‘alaykum salam…
Amin: apa khabar? sehat? iman baik?
Wani: alhamdulillah… sehat2..🙂 kamu?
Amin: alhamdulilah… baik2 juga… iman selalu turun naik sejak belakangan ini… tapi tak apa, baik saja semua
Wani: kamu tak pulang tahun ini? btw, thanks for the bday wish last week…
Amin: welcome… tak pulang. banyak kerjaan tahun ini… lagi pula saya ingin coba bekerja… cari duit…
Wani: wah, rajinnya… baguslah!
Amin: hurm…
Amin: study-nya bagaimana?
Wani: baik… semester baru ini berat sedikt.. Jadwal padat.
Amin: ow…
Amin: tak apa, rajin2 belajar ya..
Amin: hmm, sebenarnya sudah lama aku ingin menanyakan sesuatu hal…
Amin: hum…
Wani: apa itu? tanya saja… silahkan..
Amin: 1st of all sorry dulu ya… hmm, apa pendapatmu tentang kita sekarang?
Wani: eghh… seperti yang kamu katakan dalam email itu dulu yang kita ini kan ‘teman’… tak lebih daripada itu… tapi, special dikit… tiada berdua-duaan seperti orang lain… resmi pun tidak?
Wani: so, statusnya teman saja…
Amin: hurm…
Wani: egh, betul tidak?
Amin: egh..ni opini saja – antara lelaki dan perempuan yg bukan mahram, tiada hubungan yang lebih akrab melainkan hubungan suami isteri saja… yang lain2.. atas alasan apapun ia tak patut diterima……
Aku terdiam seketika. Tertampar keras juga rasanya…
Wani: jadi…
Amin: saya rasa kita harus stop… stop untuk berpisah…
Amin: sebab……
Amin: sebab saya sadar semua ini adalah salah dan juga keliru…
Amin: hal ini akan membuat hati ternodai… zina hati akan banyak berlaku…
Amin: walaupun kita jauh, tak call, tak bertemu dll, tapi hati tetap berzina…
Amin: huhhft…
Amin: saya sering menasehati banyak orang tentang hal semacam ini… tapi, dalam waktu yang bersamaan saya menyembunyikan sesuatu yang tak sepatutnya saya perbuat…
Amin: katanya Islami…
Amin: saya rasa ini tidak benar…kitalah yang sebenarnya telah menyelubungi perbuatan yg tak baik ini dengan Islam… lalu, orang melihatnya Islami…
Amin: saya rasa tak ada bedanya kita dgn org lain yg duduk berdua-duaan….
Amin: hurm…..
Amin: jadi, saya rasa kita harus berpisah…
Amin: demi menjaga diri…& sama-sama untuk kembali mengharungi hidup dalam ridha Ilahi…
Amin: maaf… beribu2 maaf untuk segala apa yang telah kita buat…
Amin: dan maaf juga karena telah membawamu ke jalan yang lupa pada-Nya…
Amin: andai ada jodoh, moga dipertemukan…
Astaghfirullahaladzim….Aku beristighfar panjang. Kuusap peluh di dahi…Air mata jahiliyah ku deras menitis membasahi meja. Sedikit terpercik pada keyboard laptop. Aku tak menyangka jika hal seperti ini akan terjadi.
Ringkas, lembut, berhikmah serta point2-nya yang jelas membuat aku tak dapat membantah dan berkata-kata. Sedih, pilu, kecewa, dan sesekali timbul rasa kesal pun ada. Tapi, semua itu tak berarti lagi…Aku tak mampu lagi untuk menyambung obrolan tersebut. Kupasrah dan terima saja keputusan yang dibuat oleh Amin itu.
Di saat ini, hanya Allah yang bisa mendengar bisikan hati rapuh ini. Dialah juga tempat ku memohon keampunan atas segala kekeliruan yang telah aku lakukan. Rupanya selama ini aku telah tertipu dengan bisikan musuh, mengikut jalan thagut, mencampurkan halal dan haram, serta mencampurkan yang Islam dan al-hawa…Cinta hakiki hanyalah pada Allah…
Tiba-tiba aku teringat hadits halawatul iman yang pernah dibincangkan oleh naqibah aku beberapa waktu lalu; pertama-tama haruslah mencintai Allah dan RasulNya lebih daripada makhlukNya, kemudian mencintai seseorang itu hanya kerana Allah dan yang terakhir, benci untuk kembali kepada kekufuran sebagaimana ia benci dicampakkan dirinya ke dalam api neraka.
Dengan demikian barulah dapat merasakan manisnya iman itu. Hanya Allah sajalah yang layak memberi hidayah kepada sesiapa yang dikehendakiNya. Moga-moga Dia kuatkan dan teguhkan hatiku menghadapi hal ini dan moga-moga diringankan beban yang kupikul ini. Aku terus menjawab ringkas….
Wani: thanks & maaf juga… saya terima… Alhamdulillah…
Wani: moga engkau bahagia dan sukses selalu di sana. doakan saya juga.
Wani: wassalam. Signed out
Aku merasakan hubungan tiga tahun yang terbina itu memang salah pada dasarnya. Bagaimana mungkin ia dapat mewujudkan sebuah keluarga yang menjunjung Islam jika asasnya terbina melalui cara al-hawa? Ya, kami memang saling menasihati dan bertazkirah, saling membangunkan untuk Qiyamul lail, saling mengirim SMS ayat-ayat Al-Quran serta hadits, tapi semua itu memang tak betul caranya…
AKU SADAR BAHWA KAMI TELAH MEMPERGUNAKAN NAMA ISLAM DEMI KEPENTINGAN DAN KEINGINAN PRIBADI….
Astaghfirullah.. Syukur pada Mu ya Allah karena lekas mengembalikan ku pada jalan ridha-Mu..
“Sayang…Cepat turun. Nurul sudah hampir sampai.” Ops! Tersentak aku dari lamunan kisah 15 tahun lalu tatkala mendengar sahutan suamiku, Muhammad Aqil untuk bersiap menyambut tamu istimewa kami Nurul dan Amin.
“Ya bang, Wani turun…”
Alhamdulillah… Siap semuanya. Aku menutup laptopku dan bergegas turun ke bawah. Aku sudah siap untuk melakukan presentasi dihadapan remaja-remaja mengenai Cinta Remaja dalam program ‘Belia Negara 2057’ esok. Aku sangat bersyukur menjadi diriku sekarang ini dan aku mengharapkan generasi-generasi harapan dapat kembali kepada cara fitrah yang sebenarnya dalam persoalan cinta.
Dikutip dari: ismapenang.wordpress.com (Judul asli: “Cinta Terlarang” Kerana Allah??)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s